Senin, 19 Agustus 2013

(KRIMINAL) KPK Akan Kembali Beri Kejutan dalam Kasus SKK Migas

KPK Akan Kembali Beri Kejutan dalam Kasus SKK Migas

Jero Wacik dan Rudi Rubiandini (Foto: Dok Okezone) Jero Wacik dan Rudi Rubiandini (Foto: Dok Okezone)


JAKARTA - Direktur Eksekutif The Sun Institute, Andrianto menduga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memberikan kejutan lebih banyak lagi terkait kasus suap yang kini menyeret mantan Ketua SKK Migas, Rudi Rubiandini.

"Saya rasa akan banyak kejutan, KPK mesti telusuri juga kemana hilir dari uang dari Kornel Oil ini," ujar Andrianto kepada Okezone, Jumat (16/8/2013).

Menurutnya, peristiwa penangkapan Rudi di saat Hari Raya Idul Fitri, tidak menutup kemungkinan uang tersebut dialirkan kepada relasi SKK Migas untuk Tunjangan Hari Raya (THR).

"Sangat mungkin, ada distribusi THR untuk relasi SKK Migas misalnya. Jadi KPK harus telusuri sampai tuntas," lanjutnya.

Untuk itu, Andrianto mengatakan, lembaga yang dikomandani oleh Abraham Samad itu harus masuk ke dunia Migas, karena peluang korupsinya sangat besar.

"Sudah semestinya KPK masuk ke ranah Migas, karena peluang korupsinya sangat besar. Saya yakin Rudi tidak bermain sendiri, meski kelihatannya ada persaingan antar kartel migas," pungkasnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tiga orang tersangka, yaitu Ketua SKK Migas Rudi Rubiandini, Komisaris PT Carnel Oil Simon Gunawan Tanjaya, dan kurir Devi Ardi. Rudi dan Ardi dijerat dengan pasal penerima suap, sedangkan Simon dijerat dengan pasal pemberi suap.

Rudi diduga menerima uang dari Simon, petinggi Kernel Oil, terkait pengurusan Migas di SKK Migas. Rudi ditangkap oleh satgas KPK setelah diduga menerima uang USD400 ribu pada Rabu 13 Agustus lalu.

Penerimaan itu diduga bukan yang pertama, sebab berdasarkan pengembangannya ditemukan juga uang USD300 ribu yang diduga diberikan sebelum lebaran. Belum lagi, juga ditemukan sejumlah uang Dollar Amerika dan Singapura dari apartemen Ardi di bilangan Jakarta Barat.
(ded)

(KRIMINAL) Dua Mobil Mencurigakan Baku Tembak dengan Polisi Depok

Dua Mobil Mencurigakan Baku Tembak dengan Polisi Depok


DEPOK - Polisi di Depok terlibat baku tembak dengan seseorang yang berada di dua mobil berbeda. Belum diketahui apakah kedua mobil tersebut ada kaitannya dengan penembakan terhadap dua anggota polisi Pondok Aren.

Pelaku yang ditangkap di Depok ini, diketahui berjumlah tiga orang. Sebelumnya Jajaran personel Polresta Depok bersiaga di sepanjang Jalan Raya Margonda pascaterjadinya insiden penembakan terhadap dua polisi yakni Aiptu Kus Hendratno dan Bripka Ahmad Maulana, anggota Bimas Polsek Pondok Aren, Tangerang.

Namun saat razia dilakukan pukul 00.15 WIB melintas satu unit mobil Xenia Silver bernopol B 8499 MZ dan satu unit Toyota Yaris hitam juga melintas.

Kedua mobil tersebut tidak mau berhenti dan melaju semakin kencang. Dari dalam mobil Yaris, pelaku mengeluarkan tembakan sebanyak dua kali tepat di depan Mapolresta Depok.

Saat itu juga anggota Polres yang sedang melaksanakan razia terkejut mendengar suara letusan dari dalam mobil Yaris tersebut dan beberapa anggota polres yang sedang razia segera membalasnya dengan mengeluarkan tembakan sebanyak 15 kali. Namun mobil tersebut tetap tidak berhenti dan justru semakin kencang hingga kabur ke arah Perumahan Grand Depok City.

Polisi akhirnya menangkap pelaku sebanyak tiga orang, dan saat ini satu unit Xenia Silver tersebut diamankan di Mapolresta Depok. Dari pengendara mobil Xenia tersebut didapatkan senpi jenis Revolver.

"Infonya demikian betul ada (baku tembak) seperti itu, kami dari jajaran Polsek juga bersiaga malam ini, Solo Bandung, standby semua sudah terbiasa apalagi mau upacara HUT kemerdekaan," ujar Kapolsek Pancoranmas Depok, Kompol Purwadi kepada Okezone, Sabtu (17/08/2013).

Sementara itu hingga kini jajaran Kapolresta hingga Kasat Reskrim Polresta Depok belum bisa dimintai konfirmasi terkait hal itu. Sementara situasi di depan Polresta Depok sempat mencekam.

(KRIMINAL) Sepasang Kekasih Disekap & Diperas, Sang Wanita Digerayangi

Sepasang Kekasih Disekap & Diperas, Sang Wanita Digerayangi


BONE - Sn (19) dan Hr (19), sepasang kekasih yang menjadi korban penyekapan oleh empat orang, melapor ke di Polres Bone, Sulawesi Selatan.

Para pelaku yang mengaku sebagai wartawan itu sempat menggeranyangi tubuh sang perempuan. Selain itu, mereka juga memeras korban dengan meminta uang Rp5 juta.

Penyekapan terjadi pada Jumat, 16 Agustus 2013, malam di Jalan Abu Daeng Pasolong, Kelurahan Tibojong, Kecamatan Tanete Riattang Timur. Sepasang kekasih itu disekap di semak-semak.

Di hadapan polisi, Hr menuturkan, ia bersama kekasihnya hendak menuju Bajoe menggunakan sepeda motor. Di tengah lokasi yang gelap, Sn ditelefon oleh temannya sehingga motor yang dinaikinya berhenti.

Di waktu bersamaan datang empat pria mengambil kunci motor dan menginterogasi mereka. Para pelaku menanyakan apa yang dilakukan sepasang kekasih itu di jalan yang gelap. Mereka pun menyekap dan menggerayangi tubuh Hr. Para pelaku juga meminta uang agar berita dugaan asusila itu tidak tayang di media.

“Dia menginterogasi kami dan memeluk saya. Setelah itu saya diantar ke rumah meminta uang tebusan Rp5 juta. Katanya ada foto kami yang siap diterbitkan di medianya,” tutur Hr.

Hal senada diungkapkan Sn. Ia membantah melakukan perbuatan asusila di tempat gelap itu.

Kedok empat pria itu diketahui setelah ada wartawan televisi yang datang ke rumah Hr. Rupanya, keluarga Hr memiliki kenalan wartawan televisi.

“Mereka pun langsung kabur setelah rumah ramai orang dan ada wartawan elektronik resmi yang berkunjung,” jelas Sn.

Sementara itu, Kepala SPK Polres Bone, Ipda Fredy Nalle, mengatakan, para pelaku tidak hanya mengaku wartawan, tapi juga anggota LSM.

(POLITIK) Unjuk rasa di Mesir diwarnai bentrokan

Unjuk rasa di Mesir diwarnai bentrokan

Kelompok pro dan kontra Presiden Morsi terlibat bentrokan di Kairo dan kota-kota lain di wilayah utara.

Unjuk rasa kelompok pro dan kontra pemerintah Mesir di berbagai kota diwarnai bentrokan mematikan yang melibatkan kedua kelompok tersebut.

Ketegangan terus meningkat menjelang unjuk rasa kelompok oposisi yang akan digelar Minggu (30/06) untuk menuntut Presiden Mohammed Morsi mundur.

Di Kairo, ribuan pendukung Morsi berunjuk rasa di luar masjid terbesar di kota itu.

Setidaknya dua orang tewas, yang salah-seorang diantaranya, menurut televisi setempat, adalah seorang wartawan AS. Dia disebutkan tewas saat pengunjuk rasa menyerbu kantor Ikhwanul Muslimin di Alexandria.

Sejauh ini masih simpang-siur tentang penyebab kematian warga AS itu, yang dilaporkan akan mengambil foto situasi bentrokan pada Jumat.

Pejabat Mesir mengatakan, dia ditikam pada bagian dadanya, tetapi laporan lain menyebutkan dia terkena tembakan.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, tengah menyelidiki laporan kematian warga AS ini.

Washington juga memperingatkan warga AS tidak melakukan perjalanan ke Mesir apabila tidak ada kepentingan, serta mengatakan staf diplomatiknya dapat meninggalkan negara itu apabila situasinya tidak memungkinkan lagi.

Perang saudara

Satu korban tewas lainnya adalah seorang pria Mesir yang ditembak mati pada Jumat, demikian sumber di rumah sakit.

Sementara, puluhan orang terluka ketika terjadi bentrokan antara kelompok anti-Morsi dan kelompok Islamis di sejumlah kota di wilayah utara negara itu.

Kantor Ikhwanul Muslimin, yang merupakan pendukung setia Morsi, dibakar, dan pihak berwenang dilaporkan telah memanggil polisi anti huru hara dan helikopter militer untuk mencoba meredam aksi kekerasan.

Ada juga laporan terjadi ledakan di Kota Port Said, juga di wilayah utara. Kepolisian setempat mengatakan satu orang tewas dan lima terluka akibat ledakan itu.

Sedikitnya tujuh orang diyakini tewas di wilayah utara Mesir dalam aksi kekerasan belakangan ini.

Keamanan makin diperketat di Kairo dan beberapa kota lainnya dengan mengerahkan aparat militer.

Lembaga terkemuka di Mesir, Al-Azhar, telah mengeluarkan peringatan tentang dampak aksi kekerasan yang terus meningkat ini.

"Kita harus waspada, jangan sampai semua ini akan berujung kepada perang saudara," kata pernyataan resmi lembaga tersebut.

(POLITIK) Protes di Mesir berujung kekerasan

Protes di Mesir berujung kekerasan

Aksi unjuk rasa di seluruh Mesir yang menuntut mundurnya Presiden Muhammed Morsi telah berlangsung sepanjang malam dengan pecahnya sejumlah aksi kekerasan.

Di ibukota Kairo, puluhan ribu orang turun berunjuk rasa di Lapangan Tahrir dan di luar istana presiden. Mereka bersumpah akan tetap tinggal di tempat hingga Morsi mundur.

Demonstrasi umumnya berlangsung damai, tetapi sebagian pengunjuk rasa melempar batu dan bom api ke markas partai penguasa, yakni Ikhwanul Muslimin.

Puluhan pemuda, menurut kantor berita AP, menyerang markas Ikhwanul Muslimin pada Minggu(30/06) malam.

Selama bentrokan, pendukung Ikhwanul juga melepaskan tembakan.

Setidaknya satu orang dilaporkan tewas dalam baku tembak dekat markas tersebut. Sementara empat orang juga dilaporkan tewas dalam bentrokan lain.

Jutaan pengunjuk rasa yang tersebar di seluruh wilayah Mesir menuduh presiden Islamis pertama ini gagal mengatasi masalah ekonomi dan keamanan sejak menduduki puncak kekuasaan tahun lalu.

Terbesar

Peristiwa ini menjadi demonstrasi terbesar di Mesir sejak revolusi 2011 yang memaksa Presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya.

Sementara itu, ribuan pendukung Morsi melakukan unjuk rasa tandingan di pinggir kota Kairo, Nasr City.

Salah seorang juru bicara presiden kemudian mendesak para pengunjuk rasa untuk menghormati proses demokrasi, yang mengacu pada kemenangan Morsi dalam pemilu tahun lalu yang secara luas dinilai sebagai pemilu yang bebas dan adil.

Satu prestasi yang pasti dari kelompok oposisi Morsi adalah bagaimana mereka bisa membuat orang sebanyak itu untuk turun ke jalan, demikian dilaporkan Editor BBC di Timur Tengah, Jeremy Bowen.

Namun pertanyaannya sekarang adalah bagaimana pihak oposisi bisa meracang strategi politik yang dapat menandingi organisasi Ikhwanul Muslimin, katanya.

Pertanyaan besar lainnya, ia menambahkan, adalah apa yang akan dilakukan tentara. Menteri pertahanan telah memperingatkan bahwa militer akan melakukan intervensi jika Mesir menjadi tidak terkendali.

(POLITIK) Maraknya Politik Dinasti di Indonesia

Maraknya Politik Dinasti di Indonesia

Ilustrasi (Foto: dok. detikcom) Jakarta - Salah satu efek samping dari pilkada dengan melahirkan dinasti-dinasti di daerah. Banyak anak dan isteri yang menggantikan ayah dan suami mereka untuk memimpin daerah.

Fenomena politik dinasti seperti layaknya politik kartel yang menganut politik balas budi, politik uang maupun politik melanggengkan kekuasaan. "Seolah-olah kebebasan politik yang semakin terbuka ini, dimanfaatkan oleh aktor-aktor politik yang punya segala akses untuk menggapai kapitalisasi dan kekuasaan,"kata pengamat politik UI Ari Juanedi kepada detikcom, Senin (22/7/2013).

Ari mempertanyakan proses kaderisasi di parpol. Menurutnya, makin maraknya praktek politik dinasti di berbagai pilkada dan pemilu legeslatif, diperkirakan akan terus berlanjut selama proses rekrutmen dan kaderisasi di partai politik tidak berjalan sebagaimana mestinya alias macet.

Sebagai contoh, sebut saja politik dinasti yang terjadi di Provinsi Banten di mana Ayah, anak, menantu, keponakan dan kerabat Gubernur Ratu Atut Chosiyah memegang berbagai lini kekuasaan, baik eksekutif dan legeslatif. Di daerah lain, pemilihan gubernur Sumatera Selatan yang diikuti Herman Deru berpasangan dengan Maphilinda Syahrial Oesman.

Maphilinda adalah istri dari mantan Gubernur Sumatera Selatan, Syahrial Oesman yang terjerat kasus dugaan korupsi alih fungsi hutan lindung menjadi pelabuhan Tanjung Api-api. Oleh Pengadilan Tipikor. Isteri Walikota Bekasi, Jawa Barat Mochtar Muhammad juga masih sempat berlaga di Pilwali Bekasi.

Istri yang menggantikan suaminya sebagai kepala daerah juga tersebar di mana-mana. Sebut saja Widya Kandi Susanti yang menjabat Bupati Kendal, Jawa Tengah yang menggantikan Hendy Boedoro, yang kini mendekam di penjara akibat menyelewengkan APBD Kendal. Lalu istri dari Idham Samawi, Sri Suryawidati yang juga menduduki kursi sepeninggalan suaminya di Kabupaten Bantul.

Idham kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi DIY pada kasus dugaan korupsi dana hibah untuk Komisi Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sebesar Rp 12,5 miliar.

"Hampir disemua ajang pilkada, bila suami sudah menyelesaikan masa tugasnya sebagai kepala daerah, maka sang istri seolah-olah 'terpanggil' ikut meneruskan jejak kepemimpinan keluarga dalam politik," jelasnya.

Ari menilai tidak ada yang salah dengan politik diniasti. Namun memilih pemimpin daerah yang tidak memiliki kapabilitas seperti sama saja menyerahkan nasib masyarakat ke orang yang salah. Pemilih seharusnya mendapatkan political literasi berupa pemahaman dan pengalaman mengenai sepak terjang calon kepada daerah atau calon anggota legislatif.

"Jangan lagi kita membeli kucing dalam karung. Yang kita hendaki sebenarnya kucing Anggora, ternyata yang kita dapatkan kucing buduk," terangnya.

Ke depan todak ada lagi anggapan calom pemimpin bisa dikarbit karena orang tuanya pernah menjadi Bupati, Gubernur atau Ketua Umum Partai. Pemimpin bisa saja lahir dari pondok pesantren, asrama mahasiswa, daerah perkampungan miskin atau taruna militer.

"Parpol hendaknya tidak berpikir jangka pendek dalam meraih kekuassan tetapi harusnya berpikir jangka panjang untuk kemashalatan ummat," kata Ari.

(EKONOMI) Pengusaha tahu-tempe terancam gulung tikar

Pengusaha tahu-tempe terancam gulung tikar


Pengusaha tahu-tempe terancam gulung tikar
ilustrasi/ist
Sindonews.com - Harga kedelai yang terus melangit membuat pengusaha tahu dan tempe di Kota Semarang meresah. Sebab, setiap hari mereka terus mengalami kerugian dan terancam gulung tikar.

Warsino, salah satu perajin tahu dan tempe di Jl Tandang, Kota Semarang mengatakan, harga kedelai saat ini menembus angka Rp7.400 sampai Rp7.500 per kilogram (kg) yang semula Rp6.500 per kg. Harga tersebut diperkirakan akan terus mengalami kenaikan.

"Sejak kenaikan beberapa bulan lalu, sampai sekarang belum ada tanda-tanda penurunan. Malah, setiap hari pasti ada kenaikan, bahkan kenaikan bisa terjadi hingga dua kali dalam sehari," ujarnya, Senin (19/8/2013).

Kenaikan harga tersebut, imbuh dia, sangat memberatkan para perajin tahu dan tempe. Dia mengaku resah dan dibayang-bayangi gulung tikar karena kenaikan harga kedelai. Setiap hari, Warsino mengaku terus merugi.
Penghasilan dari berjualan tahu dan tempe miliknya sudah tidak seperti dulu. "Kalau terus begini, kami terancam gulung tikar, sudah banyak teman-teman saya yang tidak berproduksi lagi karena bangkrut," imbuhnya.

Warsino mengaku tidak dapat menaikkan harga tahu meskipun harga kedelai sebagai bahan baku terus melejit. Karena para pengusaha tahu tempe di Kota Semarang sulit diajak kompromi.

Di sisi lain, dia juga tidak dapat mengurangi bahan baku dalam proses pembuatan tahu tempenya. Meski harga mahal, jumlah bahan baku yang digunakan tetap sama seperti dulu.

"Tidak bisa dikurangi, ukuran cetak tetap sama. Kalau dikurangi, tahu jadi rusak, selain itu saya juga tidak mungkin menaikkan harga, kalau saya naikkan dan pengusaha lain tidak, konsumen pasti lari semua," jelasnya.

Demi menutup kerugian, pemilik pabrik tahu Eco ini mengaku mengandalkan penjualan dari ampas tahu sebagai penopang penghasilan. Dengan cara itu, pabrik tersebut, kata Warsino dapat terus beroperasi.

Pihaknya berharap, pemerintah dapat segera mengambil langkah kongkret untuk menangani permasalahan ini. Jika kondisi ini terus berlangsung, akan banyak pengusaha yang gulung tikar karena tidak kuat membeli bahan baku.

"Dulu saya pernah ikut rapat dengan pemerintah, katanya jika harga kedelai melebihi Rp7.000, mereka akan mengantisipasinya dengan impor kedelai untuk menstabilkan harga, tapi sampai sekarang belum ada tindakan," ungkap dia.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Semarang, Ulfi Imran mengatakan, pihaknya belum mengetahui kenaikan harga kedelai. Namun berjanji akan mengecek di lapangan untuk memastikan hal itu.

"Akan kami cek, jika memang tinggi, kami akan melakukan koordinasi bersama tim untuk menentukan langkah selajutnya," katanya.

Ulfi mengatakan, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk mengendalikan harga kedelai di Kota Semarang. Karena pengendalian harga hanya dapat dilakukan tim pengendali harga yang meliputi Dinas Pertanian, Disperindag, Badan Ketahanan Pangan dan dinas terkait.

"Meski begitu, kami akan terus berusaha keras untuk melindungi para pengusaha dan perajin kecil agar tidak sampai gulung tikar," kata dia.